Mengenal “PHYSICAL DISTANCING” yang diperkenalkan WHO

Organisasi Kesehatan Dunia atau yang biasa kita kenal dengan World Health Organization (WHO) tengah menjalankan tugasnya untuk membantu negara-negara dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dengan memberikan imbauan “social distancing” atau “pembatasan sosial” di awal pandemi. Namun baru-baru ini WHO telah mengubah “social distancing” menjadi “physical distancing” atau “jaga jarak fisik”.

Mengenal “PHYSICAL DISTANCING”  yang diperkenalkan WHO

Sebenarnya apa itu Social Distancing?

Social Distancing (pembatasan sosial) adalah suatu keadaan dimana orang-orang diharuskan untuk mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain dengan cara mengurangi kontak tatap muka langsung, termasuk juga menghindari pergi ke tempat-tempat ramai seperti supermarket, bioskop, dan stadion. Social Distancing biasanya diberlakukan untuk suatu wabah atau penyakit yang dapat menular.

Beberapa ahli berpendapat bahwa pemakaian kata social distancing dianggap kurang tepat. Seperti yang dikemukakan oleh Profesor Ilmu Politik dan Kebijakan Publik di Northeastern University, Daniel Aldrich (dilansir dari The Washington Post, Kamis 26/03/2020). Ia sempat melontarkan kurang sepakat dengan istilah itu. Kemudian, Aldrich mengusulkan kepada WHO untuk mengubahnya menjadi physical distancing.

Social distancing mengacu pada penciptaan ruang fisik antara satu dengan yang lain dan menghindari pertemuan besar.”

Menurut Aldrich, penjelasan itu menyesatkan dan penggunaannya yang luas dapat menjadi kontraproduktif. Dengan makna seperti di atas, lebih tepat digunakan istilah physical distancing. Aldrich mengatakan, upaya yang dilakukan untuk memperlambat penyebaran virus corona harus mendorong penguatan ikatan sosial dengan tetap menjaga jarak fisik.

Dia mendengar orang-orang berhenti menghadiri acara yang dihadiri banyak orang, tetapi tidak menjaga koneksi sosial mereka dengan teknologi. Aldrich juga prihatin terhadap para lansia yang tidak dapat menggunakan teknologi untuk mempertahankan ikatan sosial. Padahal, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa komunitas yang bertahan dan dapat bangkit setelah bencana adalah mereka yang memiliki jejaring sosial kuat. Sementara itu, orang-orang di komunitas yang paling buruk adalah mereka yang tidak memiliki koneksi sosial kuat dan tidak saling memercayai. Orang-orang seperti itu sering kali menjadi yang pertama hancur karena bencana. Hal itu seperti yang terjadi di Jepang saat gempa bumi dan tsunami 2011, kebakaran di California 2018, dan gelombang panas di Chicago 1995.

Dan menurut Profesor Emeritus Perencanaan Kota dan Daerah di University of Illinois, Robert Olshansky melihat paradoks dalam istilah social distancing.

"Paradoksnya adalah bahwa kita menjadi sangat kolaboratif dan sosial dengan saling setuju untuk tinggal sejauh enam (6) kaki dari satu sama lain," katanya.

Olshansky, yang mempelajari bagaimana masyarakat pulih setelah bencana, berpendapat dalam istilah social distancing sangat jelas bahwa itu persoalan fisik bukan sosial. Hal itu terlihat jelas di dunia maya dan media sosial, di mana orang-orang tidak sendirian. Meskipun mereka terpisah secara fisik. Olshansky setuju dengan Aldrich tentang pentingnya jejaring sosial dalam bertahan dan pulih dari bencana.

"Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa komunitas kolaboratif dan saling mendukung adalah komunitas yang paling berhasil dalam pemulihan yang berkelanjutan dari bencana besar," kata Olshansky.

Belajar dari bencana di Jepang, dukungan emosional bisa memulihkan lebih baik daripada kekayaan atau kesehatan fisik. Dia mempelajari bahwa hal yang memengaruhi tingkat kecemasan orang-orang yang berlindung di dalam ruangan adalah apakah mereka memiliki tetangga atau teman bicara

Hal ini disambut baik oleh WHO, dimana semua pendapat para ahli diterima dengan baik serta akan dirapatkan kembali untuk pembaharuan imbauan. Hingga pada tanggal 20 Maret 2020, WHO mengumumkan bahwa istilah social distancing diganti menjadi physical distancing dalam upaya menekan penyebaran virus corona di seluruh dunia. 

Alasan WHO mengganti frasa social distancing menjadi physical distancing adalah untuk mengklarifikasi bahwa tetap ada perintah tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran virus corona. Meski demikian, tidak berarti bahwa seseorang memutus kontak dengan orang lain secara sosial.

Penggunaan frasa physical distancing diharapkan dapat memperjelas imbauan WHO, yaitu menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit tidak menyebar.

Istilah ini jugalah yang dipakai oleh Indonesia sebagai imbauan kepada seluruh masyarakat dalam upaya menekan penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

Lantas apa itu Physical Distancing?

Physical Distancing (jaga jarak fisik) adalah suatu keadaan dimana orang diharuskan untuk menjaga jarak fisik dengan orang lainnya setidaknya 6 kaki (2 meter). Physical Distancing dilakukan sebagai strategi kesehatan guna mencegah atau memperlambat penyebaran virus. Bahkan, Physical Distancing menjadi norma baru dalam kehidupan masyarakat saat ini setelah adanya pandemi Covid-19.

Dalam kasus ini, Physical Distancing juga berlaku bagi orang yang sudah terinfeksi oleh Covid-19, yaitu dengan cara mengisolasi diri dan mengkarantina diri, sehingga tidak menulari orang di sekitar. Langkah ini disebut sangat penting untuk dilakukan ditengah pandemi yang terjadi, guna untuk menekan penyebaran virus agar tidak meluas.

Walaupun tidak 100% menghentikan penyebaran virus, cara ini terbukti efektif untuk memperlambat laju penyebaran. Faktanya, orang yang terpapar Covid-19 ini bisa saja tidak merasakan gejala apapun. Orang inilah yang berpotensi untuk menyebarkan virus kepada orang yang lebih rentan terkena penyakit, seperti orang tua dan anak bayi.

Bila menggunakan metode ini, potensi untuk menyebarkan virus menjadi lebih kecil, karena jarak yang jauh bila bertemu dan tidak melakukan aktivitas yang tidak penting di luar rumah.

“Menjaga jarak secara fisik pada saat berkomunikasi kepada siapapun, di dalam rumah dan di luar rumah. Ini kunci pencegahan dan pengendalian penyakit COVID-19. Ini bisa dilakukan siapapun, mestinya ini bukan pekerjaan yang sulit,” terang juru bicara Kementrian Kesehatan RI, Dr. Achmad Yurianto di Gedung BNPB Indonesia, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, lebih baik jaga kesehatan diri sendiri dan jika bisa di rumah saja. Sangat tidak dianjurkan untuk melakukan aktivitas yang tidak penting di luar rumah. Rajin cuci tangan dan juga mengkonsumsi makanan sehat jangan lupa ya.

 

Jakarta, 02 April 2020