Movie of The Week : film adaptasi novel karya Pramodya Ananta Toer.

Lewat film Bumi Manusia, Hanung sang sutradara mengaku ingin "menghidupkan" kembali sosok Pramoedya di tengah generasi muda. Dia ingin banyak generasi muda mengenal siapa itu Pramoedya Ananta Toer dan bagaimana novelnya yang Kontroversial itu ditahun 1973.

Movie of The Week : film adaptasi novel karya Pramodya Ananta Toer.

Film Bumi Manusia diangkat dari novel best seller karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulisnya sewaktu mendekam di balik dinginnya jeruji di Pulau Buru tahun 1970-an. Novel luar biasa ini pernah dilarang penerbitannya karena dianggap mengajarkan ajaran Marxisme-Leninisme oleh pemerintah Indonesia, nyatanya menjadi salah satu karya yang membanggakan bangsa Indonesia, setidaknya sudah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa.

Novel berjudul Bumi Manusia ini sebetulnya merupakan buku kesatu dari empat buku. Tiga buku lainnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Diistilahkan sebagai tetralogi- lebih tepatnya ‘Tetralogi Buru’, yang ditulis oleh salah satu penulis tersohor sekaligus kontroversial yang dimiliki oleh Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.


Pramoedya Ananta Toer adalah sosok penulis yang memiliki sumbangan besar bagi dunia sastra Indonesia. Sayangnya, pada masa Orde Baru, karya-karyanya sempat dilarang, bahkan dibakar. Namanya pantas masuk ke dalam bahan ajar Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, namun untuk membacanya, pada masa itu, orang harus sembunyi-sembunyi.

Film 'Bumi Manusia' berhasil membuat Pramoedya Ananta Toer kembali menjadi sorotan dan diperbincangkan, bahkan oleh generasi muda yang mungkin belum pernah membacanya dan
menonton filmnya karena Iqbaal.

Film Bumi Manusia bercerita berkisah tentang percintaan antara Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annalies Mellema (Mawar de Jongh) yang juga menjadi pengikat cerita.  

Menggandeng Falcon Pictures sebagai publishing house, beliau juga mengajak Iqbaal Ramadhan yang sebelumnya sukses memerankan Dilan, untuk menjadi sosok Minke; Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh; Donny Damara sebagai Ayah Minke dan Ayu Laksmi sebagai orang tua Minke. Giorgino Abraham sebagai Robert Mellema, Jerome Kurnia sebagai Robert Suurhof, Bryan Domani sebagai Jan Dapperste alias Panji Darman, Hans de Krakker sebagai Jean Marais, dan lainnya.

Di durasi awal Film Bumi, kita diperkenankan untuk berdiri, karena menyajikan lagu Indonesia Raya. Film manusia berceritakan tentang Perjuangan, dan Pembebasan, Cinta dan Peradapan.

Meski memiliki durasi yang lumayan lama, yakni hampir 3 jam, Bumi  Manusia cukup berhasil membuat penonton untuk terus mengikuti ceritanya. Padahal, mengingat cerita yang diangkat begitu kompleks mengenai kisah kasih dua sejoli yang terjadi pada masa perseteruan antara pribumi dan pemerintahan kolonial, film ini sangat berpotensi membuat kita merasa mengantuk. Namun, karena diselingi dengan adegan-adegan ringan seputar romansa dan komedi, filmnya cukup berhasil menjaga perhatian penonton. Tapi, pastikan juga dalam kondisi yang fit ketika menontonnya, dan jangan lupa kencing terlebih dahulu.

Film bertema sejarah memang bukan hal baru bagi sutradara Hanung Bramantyo. Setelah sebelumnya menjadi sutradara untuk film Sang Pencerah (2010) yang menceritakan tentang KH. Ahmad Dahlan, dan Kartini (2016), Hanung juga berkesempatan untuk mengalihbentukkan novel Bumi Manusia menjadi sebuah film.

 Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang... Suara Iwan Fals kembali mengalun lembut, diiringi gerak lambat kamera yang menjauh, lantas menyisakan gelap.

Usai mengetahui sinopsis, bersiaplah menyaksikan film Bumi Manusia yang dirilis bersamaan dengan Perburuan, yang juga diadaptasi dari novel lain Pramoedya Ananta Toer pada 15 Agustus 2019.

Film Bumi Manusia tayang pada tahun 2019. Tertarik untuk menonton?

 

"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan"

-Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.-

 

“Kita pernah berbahagia.
Kenanglah itu saja.”

- Annalies Mellema, Film Bumi Manusia.-

 

“Tidak sinyo, kita sudah melawan dengan sekuat-kuatnya dan dengan sehormat-hormatnya.”

- Nyai Ontosoroh, Film Bumi Manusia.-