Srimulat, Namamu Jadi Legenda!

SRIMULAT. Bagi kita generasi X, tentu semua mengenal group lawak Srimulat. Juga HAMPIR semua orang di negeri ini tahu tentang Srimulat. Lontarkan saja tanya tentang ‘’Srimulat’’, maka jawabnya adalah grup lawak. Satu-satunyanya group lawak di Indonesia yg mempunyai personil ratusan lebih. Bahkan sangking banyaknya para personilnya sendiri pada tidak hapal para anggotannya dikarenakan begitu seringnya personil srimulat gonta-ganti dan tersebar di banyak kota.

Srimulat, Namamu Jadi Legenda!

Srimulat adalah kelompok lawak Indonesia yang didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo di Solo pada tahun 1950. Nama Srimulat sendiri diambil dari nama istri Teguh yaitu Raden Ajeng SRIMULAT. Dalam perkembangannya, kelompok Srimulat kemudian mendirikan cabang-cabang seperti di SurabayaSemarangSurakarta, dan Jakarta.

 

 

Kejayaan Srimulat mulai redup terutama ketika mulai bermunculan stasiun-stasiun televisi yang menawarkan program-program hiburan yang tak kalah menarik. Satu per satu personel Srimulat mulai berguguran. Pada tahun 1989, Teguh membubarkan Srimulat.

 

sejarah srimulat mencatat ada 7 moment bangkit dari kegagalan yg terjadi sepanjang thn 1950 – sekarang.

  • Srimulat (TVRI, 1986–1987) masa keemasan
  • Srimulat (Indosiar, 1995–2003) masa kebangkitan pertama
  • Srimulat Plus, (SCTV, 2006) masa kebangkitan kedua
  • Srimulat Cari Bakat, (antv, 2008–2011)  masa kebangkitan ketiga
  • Srimulat Night Live, (NET., 2014) masa kebangkitan keempat
  • Saatnya Srimulat, (Trans TV, 2015) masa kebangkitan kelima

 

Teguh mulai melakukan perombakan format pagelaran. Aneka Ria Srimulat mulai mengutamakan tampilnya sandiwara dengan banyolan spontan sebagai sajian utama. Srimulat lalu benar-benar berubah menjadi grup komedi. Dengan perubahan ini, Srimulat membutuhkan dramaturgi lawakan karena dagelanlah yang menjadi roh yang menghidupi seluruh jalinan cerita. Ini merupakan penemuan yang sangat penting dan mendasar.

 

Tadinya lawak hanya jadi selingan (baik di ludruk, ketoprak, bahkan wayang, dan SRIMULAT sebelum 1968), sekarang ia menjadi satu-satunya tumpuan. Fenomena ini merupakan kali pertama di Indonesia sebuah drama yang diselingi nyanyi dan seluruh alur ceritanya dilawakkan atau dilucukan di atas pentas.

 

Ciri Khas, itu yang dimiliki dari para personil SRIMULAT pada masanya. Hal utama yang dijual dalam pementasan mereka, selain materi yang lucu, adalah kekhasan para pemainnya. Itu merupakan syarat mutlak yang ditekankan oleh Teguh saat merekrut para calon anggotanya. Ciri khas yang dimaksud ada beberapa corak, di antaranya adalah penampilan, gaya bicara, dan kalimat-kalimat yang menjadi trade mark seorang pemain.

 

Sebut saja Asmuni dengan kalimat "Hil yang mustahal" dan "Tunjep poin" (maksudnya hal yang mustahil dan to the point) sudah sangat melekat padanya. Atau ketika Timbul yang akan membuat penonton tertawa tatkala ia mengucapkan "Akan tetapi" dan "Justeru". Pelawak lain seperti Mamiek Prakoso terkenal dengan kalimat "Mak bedunduk", dan "Mak jegagik" (sekonyong-konyong, tiba-tiba). Lain lagi dengan Tarzan yang selalu berpenampilan rapi a lamiliter. Lelaki berperawakan tinggi besar ini kalau melucu memang jarang ikut tertawa, tidak seperti Nunung dan Basuki.

Penonton juga pasti akan langsung mengenali sosok Tessy (Kabul) dengan dandanan khasnya. Sementara tokoh Pak Bendot akan menjadi lelucon ketika 'disia-siakan' oleh lawan mainnya. Untuk Gogon, di luar gaya rambut mohawk-nya, ia mempunyai sikap berdiri yang khas sambil melipat tangan serta cara duduknya yang selalu melorot.

 

Penonton sudah hafal satu per satu gaya mereka. Begitu mereka keluar di panggung sebenarnya kita sudah dapat menebak mulai gaya, intonasi bicara sampai kosakata yang hendak diucapkan. Namun lagi-lagi penonton tetap dibikin tertawa terbahak-bahak. Kemunculan Srimulat di panggung hiburan atau layar televisi selalu dinantikan. Tema yang paling sering diangkat dalam pementasan berpusar pada kehidupan keluarga.

Ada majikan (suami dan istri), anak, dan pembantu. Mulai percintaan hingga cerita berlatar horor selalu dikemas dengan komedi. Sesekali Srimulat menampilkan bintang tamu (biasanya selebriti) untuk melakonkan salah satu peran. Secara umum ciri khas grup Srimulat terletak pada pemutarbalikan logika, dan kelihaian memperpanjang suatu bahasan yang disisipi lelucon. Dalam memerankan sebuah lakon, para anggota Srimulat tidak mengubah nama untuk karakter yang dimainkan, termasuk bintang tamu.

 

Sampai akhirnya srimulat saat ini, kemungkinan besar tidak memungkinkan untuk bangkit kembali, karena menyisakan hanya beberapa anggotanya saja yg masih hidup. Sedangkan regenerasinya sendiri tidak berproses.

 

Tokoh-tokoh yang pernah dan masih menjadi anggota Srimulat antara lain adalah:

 

Gepeng, Kampret, Subur, Sofia, Pete, Tarzan, Asmuni, juga Triman, dan Bapak Bendot, Jujuk dan Tessy, Paul Poli dan Basuki, Timbul, Nunung, Betet, Mamiek prakoso, John Tralala, Bambang gentolet…, Gogon pula, George Sapulete, Eko Deye, Juga Polo, Kadir Juga, Serta Rohana.., dan Nurbuat… Belum semua…. Masih ada Yongki, Juga ada Rina, Yeti juga… dan Tatang pula…