Tintin Tribute untuk Indonesia

Perangko edisi khusus Tintin di Kemayoran dan Tintin di pulau Komodo diluncurkan dalam rangka memperingati hubungan bilateral Indonesia - Belgia yang ke 65 tahun, menjadi perangko resmi komunikasi KBRI Brussel di seluruh wilayah Belgia.

Tintin Tribute untuk Indonesia

Tidak banyak yang menyadari fakta bahwa Indonesia ditampilkan dalam serial petualangan Tintin. Pada 1966, Hergé menggunakan Indonesia sebagai salah satu setting dalam serial komiknya. Kisah petualangan Tintin di Nusantara diterbitkan pada 2008 dalam serialnya yang ke 22 yang berjudul Penerbangan 714 ke Sydney ini ternyata dijadikan sebagai salah satu ikon persahabatan Belgia dengan Indonesia.

 

KBRI Brussel bekerjasama dengan Museum Herg dan Moulinsart, perusahaan pemegang lisensi karya cipta Hergé, serta Perusahaan Pos Belgia (B-Post) mendesain khusus perangko resmi Belgia dengan menggunakan gambar yang diambil dari dua adegan komik Tintin, demikian Counsellor KBRI Brusel, Riaz J.P. Saehu.

Siapa yang tak kenal Tintin, wartawan sekaligus petualang dengan potongan rambut jambulnya yang khas, dan sahabat-sahabat yang selalu setia menemani, yaitu Snowy, Kapten Haddock, Professor Calculus, dan si kembar Thompson dan Thompson.

 

| Baca juga: ayoomall 

 

Semua tokoh-tokoh ini berasal dari serial komik "Petualangan Tintin" buatan artis dan kartunis asal Belgia yang bernama Georges Remi atau lebih dikenal dengan panggilan Hergé’. Namun demikian, tidak banyak yang tahu bahwa Tintin dan kawan-kawan pernah ke Indonesia.

Dalam salah satu seri komik Petualangan Tintin, "Penerbangan 714 Ke Sydney", Tintin, Snowy, Kapten Haddock dan Professor Calculus, mendarat di Bandar Udara Internasional Kemayoran, Jakarta, untuk pemberhentian terakhir penerbangan 714 dari London sebelum menuju ke Sydney.

 

"Itu! Lihat! Kemajoran!...Apakah ini Djakarta atau bukan?", kata Professor Calculus kepada Tintin dan Kapten Haddock. Dalam petualangannya di Indonesia, Tintin dkk kemudian berada di sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur dimana untuk pertama kalinya mereka melihat Komodo. "Apa itu?" tanya Kapten Haddock. "Itu Komodo!" jawab Tintin.

 

Dikemas sebagai bagian dari Resepsi Diplomatik memperingati HUT RI ke-69, peluncuran perangko secara resmi dilakukan di Brussels Square Panoramic Hall oleh Dubes RI untuk Belgia, Uni Eropa dan Luksemburg, Arif Havas Oegroseno, Direktur beserta para desainer dari Museum Herg dan Moulinsart, serta Wakil Menteri Luar Negeri Belgia, Dubes Jan Van Dessel.

 

Disaksikan Dubes negara-negara sahabat yang berada di Brussel, Anggota Parlemen Eropa dan Komisi Eropa, serta tokoh-tokoh Masyarakat Belgia, akademisi, kalangan pengusaha, penggiat seni budaya, acara berlangsung meriah dan mendapatkan banyak pujian atas kreatifitas KBRI Brussel dalam memanfaatkan Tintin sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Belgia.


Dengan keberhasilan serial Petualangan Tintin, komik tersebut dikumpulkan menjadi suatu album petualangan (23 secara keseluruhan dan ditambah satu album yang masih berupa sketsa, Tintin dan Alph-Art), yang berhasil dan telah diadaptasi ke dalam bentuk film dan teater. Komik ini adalah salah satu komik Eropa yang sangat terkenal pada abad ke-20. Sudah lebih dari 200 juta bukunya diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa.

 

Serial komik ini sangat digemari karena gaya gambarnya yang bersih tetapi ekspresif (gaya Hergé yang disebut ligne claire) dan didasarkan pada riset yang mendalam oleh pengarangnya, yang terbagi atas aliran: petualangan dengan elemen fantasi, misteri, politik dan sains fiksi. Kisah Tintin juga selalu menampilkan humor slapstick yang mengomentari tentang politik dan budaya pada suatu negara atau suatu masa.


Komik Petualangan Tintin Terbitan Indira, adapun judul-judul yang pernah diterbitkan oleh penerbit Indira adalah sebagai berikut:

  1. Tintin di Soviet (cetakan pertama Desember 1996 - Hitam Putih)
  2. Tintin di Kongo (cetakan pertama Desember 1996 - Hitam Putih)
  3. Tintin di Amerika (cetakan pertama 1981 - Berwarna)
  4. Cerutu Sang Faraoh (cetakan pertama 1980 - Berwarna)
  5. Lotus Biru (cetakan pertama Desember 1984 - Berwarna)
  6. Patung Kuping Belah (cetakan pertama 1981 - Berwarna)
  7. Rahasia Pulau Hitam (cetakan pertama 1975 - Berwarna)
  8. Tongkat Raja Ottokar (cetakan pertama 1978 - Berwarna)
  9. Kepiting Bercapit Emas (cetakan pertama 1978 - Berwarna)
  10. Bintang Jatuh (cetakan pertama 1981 - Berwarna)
  11. Rahasia Kapal Unicorn (cetakan pertama 1977 - Berwarna)
  12. Harta Karun Rackham Merah (cetakan pertama 1977 - Berwarna)
  13. Tujuh Bola Ajaib (cetakan pertama 1975 - Berwarna)
  14. Tawanan Dewa Matahari (cetakan pertama 1976 - Berwarna)
  15. Negeri Emas Hitam (cetakan pertama 1978 - Berwarna)
  16. Ekspedisi Ke Bulan (cetakan pertama 1977 - Berwarna)
  17. Penjelajahan Di Bulan (cetakan pertama 1977 - Berwarna)
  18. Penculikan Calculus (cetakan pertama 1980 - Berwarna)
  19. Hiu-Hiu Laut Merah (cetakan pertama 1978 - Berwarna)
  20. Tintin di Tibet (cetakan pertama 1979 - Berwarna)
  21. Zamrud Castafiore (cetakan pertama 1980 - Berwarna)
  22. Penerbangan 714 (cetakan pertama 1975 - Berwarna)
  23. Tintin dan Picaros (cetakan pertama 1981 - Berwarna)
  24. Tintin dan Alpha-Art (tidak pernah diterbitkan oleh Indira)

Selain ke 23 judul yang tersebut di atas, penerbit Indira juga menerbitkan beberapa judul lainnya, yaitu:

 

  1. Tintin di Danau Hiu (cetakan pertama Agustus 1983 - Berwarna)
  2. Tintin dan Jambul Emas (cetakan pertama Desember 1985 - Berwarna)
  3. Tintin dan Jeruk Biru (cetakan pertama Juli 1985 - Berwarna).

 

Serial petualangan Tintin akan dapat hidup abadi. Hergé  berhasil menyatukan pengemarnya diseluruh dunia dengan komik Petualangan Tintin. Pengemar Tintin  terkagum-kagum akan cerita, warna, karakter, riset dan goresan tangan dari Hergé. Hergé menghadap kepada Sang Khalik pada tanggal 3 Maret 1983, meninggalkan warisan komik yang sangat berharga sebanyak 24 seri di mana salah satunya Alpha-Art masih belum sempat terselesaikan. Dalam cerita tersebut Tintin terlibat dalam dunia "modern art" dan cerita berakhir ketika Tintin hampir terbunuh, dimasukkan dalam suatu peti dan ditampilkan sebagai salah satu karya seni.