ULANG TAHUN JOKOWI KE-58, BEGINILAH PERJALANAN HIDUP SANG PRESIDEN RI KE-7 BAPAK JOKO WIDODO | PERNAH KENA GUSUR 3 KALI BAHKAN GAGAL MASUK SMA FAVORIT

Menjadi orang nomor 1 di Indonesia merupakan suatu kebanggaan juga beban. Karena harus memimpin jutaan ribu orang. Berikut kisah orang nomor 1 di Indonesia saat ini.

ULANG TAHUN JOKOWI KE-58, BEGINILAH PERJALANAN HIDUP SANG PRESIDEN RI KE-7 BAPAK JOKO WIDODO | PERNAH KENA GUSUR 3 KALI BAHKAN GAGAL MASUK SMA FAVORIT

Dengan ketekunan, keikhlasan serta kemauan yang keras, Ia membuktikan bahwa Indonesia mampu untuk maju. Terbukti dengan adanya beberapa perubahan di Indonesia sejak Ia menjadi orang nomor 1 di negeri ini. Kesederhanaan Ia sangat dikagumi oleh beberapa orang penting dari negara-negara lain. Itulah bukti bahwa menjadi orang nomor 1 di Indonesia tidaklah menjadikan kita seseorang yang sombong dan berubah, karena semua sama dimata negara. Mari kita simak perjalanan hidup dari seorang pemimpin Indonesia yang ke-7.

1. Masa Kecil dan Pendidikan

Lahir dari pasangan suami istri Noto Mihardjo dan Sudjiatmi pada 21 Juni 1961, Joko Widodo merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati. Seharusnya Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Lukito, namun meninggal saat persalinan. Joko Widodo adalah nama kedua Sang Presiden RI Ke-7, sebelumnya Ia memiliki nama Mulyono.

Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 112 Tirtoyoso yang merupakan sekolah untuk kalangan menengah ke bawah pada masanya. Kesulitan hidup yang dialami di masa kecil, Ia harus berdagang, menjadi kuli panggul serta mengojek payung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta keperluan sekolah. Saat anak-anak lain ke sekolah menggunakan sepeda, Ia lebih memilih untuk berjalan kaki. Bisa kalian bayangkan anak Sekolah Dasar yang seharusnya menikmati masa kecil yang bahagia lebih memilih untuk membantu ekonomi keluarga. Betapa mandiri dan kerja keras Bapak Presiden Ke-7 kita ini di masa lalunya.

Mengikuti sang ayah yang merupakan seorang tukang kayu, Joko Widodo sebagai putra satu-satunya menuruni keahlian sang ayah. Di usianya yang ke-12 tahun, Ia mulai bekerja sebagai penggergaji.

Jokowi kecil telah mengalami kelamnya kehidupan di masa itu, merasakan penggurusan rumahnya sebanyak tiga kali dan itu menjadi awal mula yang mempengaruhi cara berpikirnya untuk kepemimpinannya kelak dalam menertibkan permukiman warga.

Setelah lulus SD, Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Surakarta. Untuk jenjang SMA, Ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga pada akhirnya Ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta. Di jenjang perkuliahan, dengan kemampuan akademis yang dimiliki, Ia diterima di Jurusan Kehutanan Universitas Gajah Mada. Ia tidak melewatkan kesempatan yang telah diterima. Ia belajar tentang struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya. Dengan judul skripsi “Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta", Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya.

2. Karir dan Keluarga

Setelahnya Ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh, dan ditempatkan di area Hutan Pinus Merkusii di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Namun ia merasa tidak betah dan pulang menyusul istrinya yang sedang hamil tujuh bulan. Ia bertekad berbisnis di bidang kayu dan bekerja di usaha milik pamannya, Miyono, di bawah bendera CV Roda Jati. Pada tahun 1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Usahanya sempat berjaya dan juga naik turun karena tertipu pesanan yang akhirnya tidak dibayar. Namun pada tahun 1990 ia bangkit kembali dengan pinjaman modal Rp 30 juta dari Ibunya. 

Usaha ini membawanya bertemu Micl Romaknan (seorang penyuka mebel asal Jerman), yang akhirnya memberinya panggilan yang populer hingga kini, "Jokowi". Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dan bisa berkeliling Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya yaitu daerah Surakarta.

Jokowi menikah dengan Iriana di Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak, yaitu Gibran Rakabuming Raka (1988), Kahiyang Ayu (1991), dan Kaesang Pangarep (1995).

3. Kiprah Politik

Wali Kota Surakarta

Pada pilkada kota Solo pada tahun 2005, Jokowi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju sebagai calon wali kota Surakarta. Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut dengan persentase suara sebesar 36,62%. Setelah terpilih, dengan berbagai pengalaman pada masa muda, ia mengembangkan Solo yang sebelumnya buruk penataannya dan menghadapi berbagai penolakan masyarakat untuk ditertibkan. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan dan menjadi kajian di universitas dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah kemampuan komunikasi politik Jokowi yang berbeda dengan kebanyakan gaya komunikasi politik pemimpin lain pada masa itu, yang menjadi kajian riset mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, bus Batik Solo Trans diperkenalkan, berbagai kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan, dan Solo menjadi tuan rumah berbagai acara internasional. Selain itu, Jokowi juga dikenal akan pendekatannya dalam merelokasi pedagang kaki lima yang "memanusiakan manusia". Berkat pencapaiannya ini, pada tahun 2010 ia terpilih lagi sebagai Wali Kota Surakarta dengan suara melebihi 90%. Kemudian, pada tahun 2012, ia dicalonkan oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta

Jokowi diminta secara pribadi oleh Jusuf Kalla untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012. Karena merupakan kader PDI Perjuangan, maka Jusuf Kalla meminta dukungan dari Megawati Soekarnoputri, yang awalnya terlihat masih ragu.  Sebagai wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu menjadi anggota DPR dicalonkan mendampingi Jokowi. Pasangan ini awalnya tidak diunggulkan. Hal ini terlihat dari klaim calon pertama yang diperkuat oleh Lingkaran Survei Indonesia bahwa pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan memenangkan pilkada dalam 1 putaran. Namun hasil pilgub putaran pertama dari KPU memperlihatkan Jokowi memimpin dengan 42,6% suara, sementara Fauzi Bowo di posisi kedua dengan 34,05% suara.

Pasangan ini berbalik diunggulkan memenangi pemilukada DKI 2012 karena kedekatan Jokowi dengan Hidayat Nur Wahid saat pilkada Wali Kota Solo 2010, serta pendukung Faisal Basri dan Alex Noerdin dari hasil survei cenderung beralih kepadanya.Jokowi akhirnya mendapat dukungan dari tokoh-tokoh penting seperti Misbakhun dari PKS, Jusuf Kalla dari Partai Golkar, Indra J Piliang dari Partai Golkar, serta Romo Heri yang merupakan adik ipar Fauzi Bowo. 

Pertarungan politik juga merambah ke media sosial dengan peluncuran Jasmev, pembentukan media center, serta pemanfaatan media baru seperti Youtube. Putaran kedua juga diwarnai tudingan kampanye hitam yang antara lain berkisar dalam isu SARA, isu kebakaran yang disengaja, korupsi, dan politik transaksional. Pada 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menetapkan pasangan Jokowi - Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru untuk masa bakti 2012-2017 menggantikan Fauzi Bowo - Prijanto.

Presiden

Pilpres 2014

Setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, popularitas Jokowi melejit berkat rekam jejaknya yang baik dan pendekatannya yang membumi dan pragmatis, seperti yang ditunjukkan melalui program "blusukan" untuk memeriksa keadaan di lapangan secara langsung. Akibatnya, Jokowi merajai survei-survei calon presiden dan menyingkirkan kandidat lainnya, sehingga muncul wacana untuk menjadikannya calon presiden. Selama berbulan-bulan wacana tersebut menjadi tidak pasti karena pencalonan Jokowi di PDI-P harus disetujui oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri, dan ia menegaskan baru akan menentukan calon setelah pemilihan umum legislatif pada bulan April. 

Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Megawati akhirnya menulis langsung surat mandat kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden, dan Jokowi mengumumkan bahwa ia bersedia dan siap melaksanakan mandat tersebut untuk maju sebagai calon presiden dalam pemilihan umum presiden 2014. 

Pada tanggal 19 Mei 2014, Jokowi mengumumkan bahwa Jusuf Kalla akan menjadi calon wakil presidennya. Pencalonan tersebut didukung oleh koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura. Pada hari yang sama, Jokowi dan Jusuf Kalla secara resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum.

Setelah mendengar hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survei, Jokowi menyatakan kemenangan pada 9 Juli. Namun, lawannya, Prabowo Subianto juga menyatakan kemenangan, membingungkan warga Indonesia. Pada 22 Juli, beberapa jam sebelum pengumuman hasil pilpres, Prabowo mengundurkan diri dari pilpres. KPU pun mengumumkan kemenangan Jokowi berjam-jam kemudian. KPU menyatakan Jokowi menang dengan 53,15% suara (70.997.859 pemilih), sementara Prabowo mendapatkan 46,85% (62.576.444 suara), meskipun kubu Prabowo membantah total ini. 

Jokowi adalah presiden Indonesia pertama yang tidak berasal dari militer atau elit politik, dan menurut komentator politik Salim Said, rakyat memandang Jokowi sebagai "seseorang yang merupakan tetangga kita, yang memutuskan untuk terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai presiden".

Pilpres 2019

Pada 2018, Jokowi mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri dalam pemilihan umum presiden 2019. Wakil presiden Jusuf Kalla dianggap tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan lagi karena batasan masa jabatan yang ditentukan untuk jabatan presiden dan wakil presiden. (Jusuf Kalla telah menjalani masa jabatan lima tahun sebagai wakil presiden pada masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari 2004 hingga 2009). Beragam spekulasi mengenai siapa yang akan dipilih Jokowi sebagai calon wakil presidennya terfokus pada beberapa kandidat termasuk Mahfud MD yang merupakan seorang mantan menteri pertahanan dan hakim agung Mahkamah Konstitusi.

Pada 9 Agustus 2018, secara mengejutkan, Jokowi mengumumkan bahwa Ma'ruf Amin akan menjadi pasangannya. Mahfud telah dilaporkan sedang mempersiapkan diri untuk menjadi calon wakil presiden, namun, setelah dorongan oleh beberapa partai dari koalisi pemerintah Jokowi dan tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh, Ma'ruf dipilih sebagai gantinya. Jokowi memilih Ma'ruf karena pengalamannya yang luas dalam urusan pemerintahan dan agama.

Setelah empat tahun menjabat, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi tetap tinggi, berkisar antara 60–70%. Hasil hitung cepat menunjukkan bahwa Jokowi diperkirakan memenangkan pilpres dengan suara 54 persen. Akan tetapi, Prabowo mengklaim bahwa perhitungan oleh tim kampanyenya sendiri menunjukkan bahwa dia meraih suara 62 persen. 

******

Nah kira-kira gimana nih #Mallvers? Bapak Jokowi aja memulai semuanya dari nol. Namun berkat kejujuran, kemauan dan ketulusan, Indonesia dapat maju seperti sekarang ini. Mari kita dukung terus Bapak Jokowi untuk membangun Indonesia lebih baik lagi.